Merawat Gandrung di Tanah Rantau, Menyiapkan Langkah Menuju Banyuwangi

Suasana hangat sangat terasa di sebuah rumah di Kertosari, Banyuwangi, Sabtu (24/10/2026). Sejak pukul 11.00 WIB, para penari delegasi Ikawangi Dewata Bali berdatangan satu per satu. Mereka bersiap menghadapi perhelatan Gandrung Sewu 2026, sebuah panggung besar yang mempertemukan ribuan penari di tanah kelahiran Tari Gandrung.

Rumah itu perlahan berubah menjadi ruang persiapan. Peralatan rias dibuka, busana ditata, dan berbagai perlengkapan tari diperiksa. Di sela-sela kesibukan, gelak tawa dan obrolan akrab terdengar bersahutan. Para penari saling menyapa, berbagi perlengkapan, dan membantu satu sama lain. Tak banyak ketegangan terlihat. Yang lebih terasa justru suasana kekeluargaan di antara mereka.

Bagi para penari yang datang dari Bali, perjalanan ke Banyuwangi bukan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Ada kesempatan untuk bertemu, berbagi pengalaman, sekaligus membawa kesenian leluhur ke panggung yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui cerita, latihan, atau rekaman pertunjukan.

Di salah satu sudut ruangan, Rita, Ketua Departemen Kebudayaan Ikawangi Dewata Bali, sibuk membantu merias rekan-rekannya. Ia memoles wajah para penari dengan telaten, sesekali mengamati hasil riasan sebelum membenahi bagian yang dirasa belum sempurna.

Sementara itu, diluar ruangan, Yuniar memeriksa perlengkapan tari. Meski masih menyisakan kelelahan setelah mendampingi para penari menjalani gladi bersih hingga larut malam, ia tetap teliti memastikan setiap kebutuhan tersedia. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah omprog, hiasan kepala megah dengan ukiran dan ornamen keemasan yang menjadi ciri khas penari Gandrung.

Busana, riasan, dan omprog bukan sekadar pelengkap penampilan. Semuanya menjadi bagian dari identitas visual Tari Gandrung yang harus disiapkan dengan cermat. Yuniar memeriksa detail perlengkapan satu demi satu, sementara para penari menyelesaikan riasan dan mengenakan busana masing-masing.

Di rumah sederhana itu, setiap orang mengambil peran. Ada yang merapikan riasan, membenahi busana, menyiapkan perlengkapan, atau memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Persiapan berlangsung di antara obrolan ringan dan kesibukan yang terus bergerak mendekati waktu pertunjukan.

Gandrung Sewu bahkan telah terasa sebelum para penari menginjakkan kaki di arena pertunjukan. Ia hadir dalam tangan-tangan yang saling membantu, dalam kecermatan memeriksa perlengkapan, dan dalam antusiasme mereka yang datang dari Bali untuk menari di Banyuwangi.

Namun, perjalanan menuju panggung itu tidak dimulai di Kertosari pada pagi tersebut. Jauh sebelumnya, ada latihan-latihan rutin yang harus disiasati di tengah kesibukan sekolah, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Ada gerakan yang mesti diulang, irama yang harus dihafal, serta kekompakan yang dibangun sedikit demi sedikit.

Omprog, hiasan kepala megah dengan ukiran dan ornamen keemasan yang menjadi ciri khas penari Gandrung. Foto : Kholik Mawardi

Di Tanah Bali, Gandrung Menolak Berhenti

Senin malam (19/10/2026), jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WITA ketika para penari mulai bergerak mengikuti irama musik. Kipas merah berpindah dari satu tangan ke tangan lain, sementara selendang merah di bahu mengikuti gerak tubuh mereka. Sesekali, gerakan terhenti ketika pelatih memberikan arahan. Para penari kemudian mengulang bagian yang belum serempak.

Malam itu, latihan berlangsung di Sekretariat Ikawangi Dewata Bali Cabang Badung, Perum Korem, Jalan Majapahit Blok C Nomor 8, Kuta. Ruangan tersebut tidak menyerupai panggung pertunjukan. Para penari mengenakan pakaian latihan sehari-hari, tanpa riasan dan busana lengkap. Cahaya lampu menerangi lantai keramik, sementara ornamen dan foto-foto di dinding menjadi latar aktivitas mereka.

Kipas dan selendang merah memberi warna tersendiri di ruangan itu. Di tangan para penari, keduanya bukan sekadar properti, melainkan bagian dari gerakan yang harus dikuasai. Pergelangan tangan, langkah kaki, arah pandangan, hingga ekspresi wajah perlu mengikuti irama dan karakter tarian.

Yuniar memperhatikan gerakan mereka. Sesekali ia memperagakan bagian tertentu untuk menunjukkan gerakan yang perlu diperbaiki. Para penari menyimak, mencoba kembali, lalu mengulanginya ketika hasilnya belum sesuai. Latihan berjalan dalam pola yang sederhana: mengamati, mencoba, menerima koreksi, dan mengulang.

Malam semakin larut, tetapi latihan belum selesai. Persiapan menuju Gandrung Sewu membuat jadwal latihan yang biasanya berlangsung sekali dalam sepekan harus ditambah.

“Latihan rutin biasanya Jumat malam Sabtu. Karena ini persiapan untuk Gandrung Sewu, kita latihan Senin malam Selasa ini,” ujar Yuniar.

Bagi kelompok penari ini, tambahan waktu latihan bukan perkara mudah. Setiap orang memiliki kegiatan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu dengan sekolah, ada pula yang memiliki tanggung jawab pekerjaan. Jadwal latihan perlu menyesuaikan keadaan para penari agar mereka tetap bisa belajar bersama.

Tantangan itu dirasakan langsung oleh pelatih. Waktu yang terbatas membuat proses latihan harus berjalan efektif, sementara materi tarian menuntut ketepatan gerak dan kekompakan. Tidak cukup hanya menghafal urutan gerakan. Para penari juga perlu membangun keselarasan agar setiap gerakan dapat menyatu dengan musik dan penari lainnya.

Di tengah keterbatasan itu, latihan menjadi ruang untuk belajar sekaligus menjaga hubungan dengan kebudayaan Banyuwangi. Para penari tidak tumbuh dalam lingkungan yang setiap hari mempertemukan mereka dengan kesenian tersebut. Sebagian besar menjalani kehidupan di Bali, jauh dari daerah asal orang tua atau leluhur mereka.

Yuniar sendiri lahir di Banyuwangi dan kini bekerja di Bali. Pengalamannya membuat kegiatan latihan memiliki arti lebih dari sekadar mengajarkan koreografi. Ia turut mendampingi generasi muda Banyuwangi agar mengenal kesenian yang menjadi bagian dari identitas keluarga mereka.

“Rasanya bangga dan senang sekali, karena bisa mengajarkan Tari Gandrung dan ikut melestarikan kebudayaan Banyuwangi di tanah perantauan ini,” katanya.

Kebanggaan itu berjalan beriringan dengan pekerjaan yang tidak selalu mudah. Para penari harus mengatur waktu, sedangkan pelatih perlu menyesuaikan metode latihan dengan kemampuan dan kesibukan mereka. Namun, justru dalam proses itulah kesenian diwariskan, bukan hanya melalui penjelasan tentang asal-usulnya, melainkan lewat gerakan yang dipelajari bersama, koreksi yang diterima, dan waktu yang disediakan untuk terus berlatih.

Yuniar berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah Gandrung Sewu selesai. “Harapan saya, kita bisa belajar terus, belajar bersama untuk kesenian Banyuwangi di Bali, dan melestarikan budaya Banyuwangi meskipun di perantauan,” ujarnya.

Yuniar, Pelatih Gandrung sedang melatih penri Gandrung di Sekretariat Ikawangi Dewata Bali cabang Badung pada Senin (19/10/2026). Foto : Kholik Mawardi

Di Balik 1.300 Penari, Ada Mimpi untuk Kembali

Bagi Lintang, kedekatan dengan Tari Gandrung tumbuh melalui jalan yang tidak sepenuhnya sama dengan generasi sebelumnya. Gadis berusia 15 tahun itu lahir di Banyuwangi, tetapi telah tinggal di Bali sejak masih bayi. Sebagian besar masa kecilnya dijalani di pulau tempat ia tumbuh dan bersekolah.

Perkenalannya dengan Tari Gandrung antara lain datang melalui media sosial dan cerita orang tua. Dari sana, muncul keinginan untuk mempelajari tarian tersebut, kemudian terlibat dalam upaya menjaga kesenian Banyuwangi agar tetap dikenal generasi muda.

“Saya tahu Tari Gandrung dari TikTok dan cerita orang tua. Lalu saya kepengin belajar dan ingin ikut melestarikan budaya Banyuwangi meskipun jauh dari Banyuwangi,” tuturnya.

Bagi Lintang, mengikuti Gandrung Sewu pada 2026 menjadi pengalaman pertamanya. Waktu persiapannya relatif singkat, sekitar satu hingga dua bulan. Selama masa itu, ia harus menghafal gerakan, menyesuaikan koreografi dengan musik, dan melatih kembali bagian-bagian yang belum dikuasai.

Ada gerakan yang terasa cepat, ada pula bagian yang menuntut koordinasi antara tangan, tubuh, dan kipas. Dalam tarian seperti Gandrung Kembang Dermo, gerakan kipas menjadi salah satu tantangan tersendiri. Ketika konsentrasi terpecah, gerakan bisa terlupakan atau kipas terlepas dari tangan.

Lintang mengatasinya dengan mengulang gerakan sesering mungkin. Bahkan di luar jadwal latihan, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mengingat kembali koreografi. Rasa lelah memang datang, tetapi ketertarikannya pada seni tari membuatnya tetap bersemangat mengikuti proses latihan.

Dukungan keluarga turut memberi ruang baginya untuk menjalani kegiatan tersebut. Orang tuanya mendukung keterlibatannya dalam kegiatan positif, terutama seni tari. Dukungan itu penting karena proses belajar tidak selesai ketika latihan bersama berakhir. Ada bagian yang perlu diulang sendiri agar gerakan semakin melekat.

Bagi Lintang, Gandrung Sewu juga menjadi kesempatan untuk bertemu penari lain dari berbagai daerah. Ia berharap pertemuan itu tidak berakhir ketika pertunjukan selesai. Ia ingin tetap berhubungan dengan teman-teman baru, saling mengunjungi, dan menjaga pertemanan yang tumbuh dari pengalaman menari bersama.

Pengalaman tersebut membuatnya memandang pelestarian budaya sebagai sesuatu yang bisa dimulai dari langkah sederhana: mau mengenal, belajar, lalu ikut terlibat.

Ia berharap generasi muda bersedia mempelajari budaya daerah asal keluarga mereka agar kesenian itu tidak hilang. Pada saat yang sama, ia juga mendorong anak muda untuk mengenal kebudayaan dari daerah lain sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.

Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan layar digital, perjalanan Lintang menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal tradisi. Namun, rasa ingin tahu itu menemukan bentuk yang berbeda ketika seseorang benar-benar datang ke ruang latihan, mengikuti gerakan, mendengarkan musik, dan belajar bersama orang lain.

Pengalaman serupa hadir dalam perjalanan Nesa menuju Gandrung Sewu 2026. Baginya, proses persiapan cukup panjang. Keikutsertaannya pada 2026 menjadi pengalaman pertama. Ia membayangkan panggung besar yang akan mempertemukannya dengan ribuan penari lain, sekaligus kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah perhelatan budaya yang memiliki arti khusus bagi Banyuwangi.

“Ini pertama kalinya saya mengikuti Gandrung Sewu. Pengalaman ini sangat bermakna dan berarti bagi saya. Saya sangat bangga dan bahagia bisa berada di tengah-tengah 1.300 penari hebat lainnya,” kata Nesa.

Angka 1.300 itu memberi gambaran tentang besarnya perhelatan yang mereka hadapi. Di tengah ribuan penari, setiap peserta membawa persiapan dan pengalaman masing-masing. Bagi delegasi Ikawangi Dewata Bali, keikutsertaan tersebut juga menjadi pengalaman kolektif yang mempertemukan mereka dengan penari lain serta membuka peluang untuk kembali terlibat pada tahun-tahun berikutnya.

Nesa berharap kesempatan itu tidak berhenti pada satu kali penampilan.

“Semoga tahun depan bisa menjadi perwakilan lagi dari Bali,” ujarnya.

Keinginan untuk kembali menjadi bagian dari Gandrung Sewu memperlihatkan bahwa pengalaman pertama dapat menjadi awal dari keterlibatan yang lebih panjang. Pertunjukan mungkin berlangsung dalam waktu terbatas, tetapi proses yang mengantarkan seseorang ke panggung bisa meninggalkan dorongan untuk terus belajar.

Penari Gandrung Sewu menyala dalam gelap di Pantai Boom pada Sabtu (24/6/2026). Glow in The Dark adalah sebuah konsep baru di Gandrung Sewu 2026. Foto : Kholik Mawardi

Dari Bali, Mereka Membawa Gandrung ke Panggung Banyuwangi

Sabtu siang di Kertosari, seluruh proses itu bertemu dalam satu ruang. Latihan di Bali, waktu yang dicuri dari kesibukan, gerakan yang diulang berkali-kali, dan perlengkapan yang diperiksa dengan teliti menjadi bagian dari persiapan menjelang pertunjukan.

Bagi para penari muda Banyuwangi yang tumbuh di Bali, perjalanan menuju Gandrung Sewu bukan hanya kesempatan tampil di hadapan publik. Mereka juga sedang membangun hubungan dengan kebudayaan yang diwariskan melalui keluarga, cerita, dan pengalaman belajar bersama.

Hubungan itu tidak selalu tumbuh melalui cara yang sama. Ada yang mengenal Tari Gandrung dari cerita orang tua, ada yang menemukannya melalui media sosial, dan ada pula yang kemudian mendalaminya lewat latihan rutin. Jalan mereka berbeda, tetapi bertemu pada satu titik, keinginan untuk mengenal kesenian Banyuwangi lebih dekat.

Di rumah sederhana di Kertosari, riasan mulai selesai, busana dikenakan, dan omprog disiapkan. Para penari bersiap meninggalkan ruang persiapan menuju panggung. Di balik kemegahan Gandrung Sewu 2026 dan ribuan penari yang akan memenuhi arena, terdapat perjalanan yang dimulai dari hal-hal sederhana, meluangkan waktu untuk berlatih, bersedia menerima koreksi, dan saling membantu agar bisa tampil bersama.

Mereka datang dari Bali, tempat mereka tumbuh dan menjalani kehidupan. Namun, melalui Tari Gandrung, mereka menemukan cara untuk mendekat kepada Banyuwangi, bukan hanya sebagai tempat asal keluarga, melainkan sebagai kebudayaan yang bisa dipelajari, dialami, dan diteruskan. Pada hari itu, langkah mereka menuju panggung Gandrung Sewu 2026 juga menjadi langkah untuk merawat hubungan tersebut.(*)

Doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Umum Ikawangi Dewata Bali, Drs. H. Noer Yasin, M.Pd.I. sebelum berangkat ke lokasi Gandrung Sewu 2026 pada Sabtu (24/10/2026)