Sejarah Ikawangi Dewata Bali
Jauh dari tanah kelahiran, masyarakat Banyuwangi yang menetap di Pulau Bali tetap membawa satu hal yang tidak pernah pudar, yaitu rasa memiliki terhadap kampung halaman. Ikatan tersebut tidak hanya lahir karena tempat kelahiran, tetapi juga tumbuh dari hubungan keluarga, sejarah, budaya, hingga kebersamaan yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tinggal di daerah yang berbeda, semangat sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi tetap hidup dan menjadi perekat yang menyatukan mereka.
Di tengah keberagaman masyarakat Bali, warga Banyuwangi membangun kehidupan baru tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai yang telah diwariskan. Semangat saling membantu, menjaga persaudaraan, melestarikan budaya, serta bekerja sama dalam berbagai bidang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dari sinilah tumbuh apa yang dikenal sebagai ikatan ke-Banyuwangian, sebuah rasa persaudaraan yang menyatukan masyarakat Banyuwangi di perantauan.
Ikatan tersebut berlandaskan pada nilai-nilai kebersamaan dalam kemajemukan, kesetaraan, keadilan, kebajikan, dan keadaban. Nilai-nilai itu menjadi fondasi bagi masyarakat Banyuwangi di Bali untuk membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan tempat mereka tinggal. Di sisi lain, tumbuh pula kesadaran bahwa masyarakat Banyuwangi di Bali memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga hubungan dengan tanah kelahirannya, sekaligus berperan aktif dalam pembangunan Bali sebagai daerah tempat mereka hidup dan berkarya.
Semangat inilah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membentuk sebuah organisasi yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat Banyuwangi di Bali. Organisasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat bersilaturahmi, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas, melestarikan budaya, mengembangkan pendidikan, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, serta membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Sebelum organisasi ini resmi berdiri, dilakukan penyusunan draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai landasan dalam menjalankan organisasi. Proses ini bukanlah pekerjaan yang dilakukan secara singkat. Draf AD/ART dibahas secara intensif selama tujuh malam berturut-turut, mencerminkan kesungguhan dan komitmen untuk membangun organisasi yang memiliki dasar hukum, tujuan, dan arah yang jelas. Penyusunan draf tersebut dilakukan oleh Lulut Joni Prasojo, Hendri Julian, Danang Sumartono, dan Kholik Mawardi, yang bersama-sama merumuskan prinsip-prinsip organisasi agar dapat menjadi pedoman dalam perjalanan Ikawangi Dewata Bali di masa yang akan datang.
Setelah melalui proses pembahasan yang matang, tibalah momen bersejarah yang menjadi tonggak lahirnya organisasi. Pada Minggu, 22 November 2009, masyarakat Banyuwangi yang berada di Bali menyatakan sepakat mendirikan Ikatan Keluarga Banyuwangi (IKAWANGI) Dewata. Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen pendirian yang ditandatangani di Rumah Makan Bu Tinuk, Tuban, Kabupaten Badung, Bali, oleh H. Taufiqurrahman, Bambang Sutiyono, S.E., Lulut Joni Prasojo, Masyhudi Jamal, Agus Subagio, S.H., dan Drs. Nur Yasin, M.Pd.I., sebagai para penandatangan dokumen pendirian organisasi. Penandatanganan tersebut menjadi simbol lahirnya sebuah organisasi yang dibangun atas semangat persaudaraan, kebersamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sejak berdiri, Ikawangi Dewata Bali terus berkembang menjadi organisasi yang mampu merangkul masyarakat Banyuwangi dari berbagai latar belakang. Organisasi ini tidak membedakan profesi, usia, agama, maupun status sosial. Selama memiliki ikatan ke-Banyuwangian dan semangat untuk menjaga persaudaraan, setiap warga Banyuwangi di Bali memiliki tempat di dalam keluarga besar Ikawangi Dewata Bali.
Dalam perjalanannya, Ikawangi Dewata Bali tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga tumbuh menjadi organisasi yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan kemasyarakatan. Berbagai program dijalankan untuk membantu anggota yang membutuhkan, melestarikan seni dan budaya Banyuwangi, mendorong pengembangan usaha mikro dan ekonomi anggota, memberikan perhatian terhadap pendidikan generasi muda, hingga memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat Bali. Seluruh kegiatan tersebut menjadi wujud nyata dari visi organisasi untuk menghadirkan manfaat bagi anggota sekaligus memberikan kontribusi positif bagi daerah asal maupun daerah tempat berpijak.
Perkembangan organisasi yang semakin pesat juga ditandai dengan semakin luasnya jaringan kepengurusan. Berkat semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat Banyuwangi di berbagai daerah, Ikawangi Dewata Bali terus memperkuat struktur organisasinya agar pelayanan kepada anggota dapat dilakukan secara lebih dekat dan efektif. Saat ini, Ikawangi Dewata Bali telah memiliki kepengurusan cabang yang tersebar di 1 kota dan 8 kabupaten di Provinsi Bali, menjadikannya organisasi yang hadir hampir di seluruh wilayah Bali sebagai wadah pemersatu masyarakat Banyuwangi.
Lebih dari satu dekade sejak berdiri, Ikawangi Dewata Bali terus menjaga semangat yang diwariskan para perintisnya. Organisasi ini senantiasa berupaya menjadi rumah besar bagi masyarakat Banyuwangi di Bali, tempat tumbuhnya persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian. Dengan berpijak pada nilai-nilai kebersamaan, kemajemukan, keadilan, dan keadaban, Ikawangi Dewata Bali terus melangkah maju untuk memperkuat solidaritas warga Banyuwangi, melestarikan warisan budaya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta berkontribusi dalam pembangunan sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi di Bali maupun Banyuwangi.
Perjalanan Ikawangi Dewata Bali merupakan bukti bahwa rasa persaudaraan tidak dibatasi oleh jarak. Justru di tanah perantauan, semangat kebersamaan itu tumbuh semakin kuat dan menjadi energi untuk saling mendukung, saling menguatkan, serta bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Banyuwangi di Bali.