BADUNG — Jam menunjukkan pukul 20.00 WITA ketika sejumlah anak muda mulai menggerakkan tubuh mengikuti irama musik pengiring Tari Gandrung. Kipas merah berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, sementara selendang merah yang tersampir di bahu ikut bergerak mengikuti langkah kaki. Sesekali, gerakan mereka terhenti untuk mendengarkan arahan pelatih sebelum kembali mengulang bagian yang belum seragam.
Malam itu, Senin (19/10/2026), Sekretariat Ikawangi Dewata Bali Cabang Badung di Perum Korem, Jalan Majapahit Blok C Nomor 8, Kuta, menjadi ruang bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Banyuwangi. Latihan berlangsung hingga pukul 22.30 WITA. Di tempat ini, anak-anak muda Banyuwangi yang lahir dan besar di Bali belajar merawat tradisi leluhur melalui Tari Gandrung.
Ruangan latihan itu tidak menyerupai panggung pertunjukan. Para penari mengenakan pakaian sehari-hari, tanpa riasan wajah dan busana lengkap yang biasa digunakan saat tampil. Cahaya lampu memantul di lantai keramik, sementara ornamen dan foto berbingkai menghiasi dinding. Namun, selendang dan kipas merah yang mereka bawa menghadirkan suasana berbeda. Di antara gerakan yang terus diulang, tersimpan keinginan untuk mengenali budaya yang diwariskan keluarga mereka.
Yuniar, pelatih Tari Gandrung yang lahir di Banyuwangi dan kini bekerja di Bali, berdiri di hadapan para penari. Mengenakan kaus merah dan kerudung hitam, ia memberikan arahan sekaligus memperagakan gerakan yang perlu diperbaiki. Posisi tangan, langkah kaki, kibasan kipas, hingga ekspresi wajah menjadi bagian dari latihan malam itu.
Belajar Gandrung bukan hanya perkara menghafal urutan gerakan. Para penari juga perlu memahami bagaimana tubuh mengikuti irama dan bagaimana ekspresi memberi kehidupan pada tarian. Ketika gerakan belum kompak, mereka mengulanginya. Ketika posisi tangan kurang tepat, Yuniar kembali memberikan contoh.
Latihan malam itu merupakan bagian dari persiapan mereka untuk mengikuti Gandrung Sewu. Karena itu, jadwal latihan yang biasanya berlangsung sekali dalam sepekan ditambah agar para penari memiliki lebih banyak kesempatan untuk mematangkan kemampuan.
“Latihan rutin biasanya Jumat malam Sabtu. Karena ini persiapan untuk Gandrung Sewu, kita latihan Senin malam Selasa ini,” ujar Yuniar.
Bagi Yuniar, kegiatan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar mempersiapkan penampilan. Ia melihat latihan Tari Gandrung sebagai kesempatan untuk ikut menjaga kebudayaan Banyuwangi tetap hidup, meskipun jauh dari daerah asalnya.

Yunia, (Kaus Merah) akrab dipanggil Niar, Pelatih tari, mencontohkan gerakan saat latihan pada Senin (19/10/2026) di Kuta. Photo : Kholik Mawardi
Sebagai orang yang lahir di Banyuwangi dan kini menjalani kehidupan di Bali, ia berada di antara dua ruang kehidupan, tanah kelahiran yang menyimpan akar budayanya dan tanah rantau tempat ia bekerja serta berbagi pengetahuan dengan generasi muda.
“Bangga, senang bisa mengajarkan tarian Banyuwangi, karena bisa melestarikan kebudayaan Banyuwangi di tanah rantau, di Bali,” katanya.
Kebanggaan serupa tumbuh dari para penari yang mengikuti arahannya. Meski lahir dan besar di Bali, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal kebudayaan yang menjadi bagian dari sejarah keluarga. Bagi mereka, hubungan dengan Banyuwangi tidak selalu harus dibangun melalui perjalanan pulang ke kampung halaman. Tradisi juga dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada tanah leluhur.
Silvi, salah satu penari, memandang belajar Tari Gandrung sebagai cara agar kebudayaan Banyuwangi tidak hilang dari ingatannya. Di tengah kehidupan modern yang menawarkan banyak hal baru, ia merasa penting untuk tetap mengenal tradisi keluarga.
“Zaman sekarang kan sudah canggih, biar nggak lupa dengan budaya Banyuwangi,” ujar Silvi.
Pernyataan Silvi menyiratkan cara pandang generasi muda terhadap kebudayaan. Kemajuan teknologi tidak harus membuat tradisi tertinggal. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi pintu untuk mengenal kembali warisan yang mungkin belum banyak mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu juga dialami Lintang. Ia mengaku pertama kali mengenal Tari Gandrung melalui TikTok dan cerita orang tuanya. Dari dua sumber tersebut, ketertarikannya tumbuh hingga muncul keinginan untuk mempelajari tarian itu secara langsung.
“Saya tahu Tari Gandrung dari TikTok dan cerita orang tua. Lalu saya kepengin belajar dan ingin ikut melestarikan budaya Banyuwangi meskipun jauh dari Banyuwangi,” kata Lintang.
Cerita Lintang memperlihatkan bagaimana perkenalan dengan budaya dapat bermula dari hal sederhana. Cerita orang tua membawa ingatan tentang asal-usul keluarga, sedangkan media sosial membuka akses untuk melihat tradisi dari tempat yang berbeda. Ketika rasa ingin tahu itu berlanjut menjadi keinginan untuk belajar, kebudayaan tidak lagi sebatas gambar di layar atau cerita yang didengar sesekali.
Di ruang latihan, Tari Gandrung hadir sebagai pengalaman yang nyata. Para penari mempelajari gerakan, mengikuti irama, mendengarkan arahan, dan mengulang bagian-bagian yang belum dikuasai. Proses tersebut mempertemukan mereka dengan kebudayaan Banyuwangi melalui pengalaman langsung, bukan sekadar pengetahuan.
Bagi generasi muda Banyuwangi yang tumbuh di Bali, perjalanan mengenal budaya leluhur mungkin berlangsung dengan cara berbeda dibandingkan mereka yang tinggal di tanah asalnya. Lingkungan tempat mereka dibesarkan membentuk keseharian, tetapi cerita keluarga dan tradisi memberi ruang untuk memahami dari mana mereka berasal.
Di Kuta, malam itu, latihan berakhir setelah lebih dari dua jam. Namun, upaya menjaga tradisi tidak berhenti ketika kipas disimpan dan selendang dilepas. Ada gerakan yang harus terus diingat, irama yang perlu kembali dipelajari, dan pengetahuan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Mereka memang tumbuh di Bali, jauh dari Banyuwangi. Namun, melalui Tari Gandrung, mereka menemukan cara untuk tetap terhubung dengan tanah leluhur. Di tangan anak-anak muda itu, kebudayaan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi tradisi yang terus dipelajari dan diberi kehidupan baru di tanah rantau.(*)