Di Tanah Leluhur, Mereka Menemukan Jalan Pulang

Gandrung Sewu 2026 menjadi panggung bagi sebelas penari Ikawangi Dewata Bali untuk merayakan mimpi, merawat ingatan keluarga, dan menjaga kebudayaan Banyuwangi dari tanah rantau.

BANYUWANGI - Sabtu (24/10/2026), pukul 17.00 WIB, sebelas penari Gandrung dari Ikawangi Dewata Bali meninggalkan sebuah rumah di Kertosari, Banyuwangi. Mereka berangkat menuju Pantai Marina Boom untuk mengikuti Gandrung Sewu 2026. Perjalanan yang seharusnya menjadi penghubung menuju panggung pertunjukan ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Kendaraan mereka terjebak kemacetan. Waktu terus berjalan, sementara acara yang mereka tunggu semakin dekat. Sugiono, salah satu fotografer Ikawangi Dewata Bali yang mendampingi perjalanan, dengan cekatan mencari jalan pintas agar rombongan bisa segera sampai.

Kendaraan akhirnya diparkir di Jalan Ikan Seleding. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dalam gelap, para penari harus melewati jembatan gantung yang lebarnya kurang dari satu meter. Di sampingnya berdiri Taman Makam Pahlawan Wisma Raga Satria Laut. Setelah menyeberangi jembatan, mereka masih harus melewati area parkir berpasir sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi pertunjukan menggunakan angkutan yang bentuknya menyerupai odong-odong.

Perjalanan itu jauh dari kesan glamor sebuah festival besar. Tidak ada karpet merah atau jalan khusus bagi para penampil. Yang ada hanya langkah-langkah yang harus terus bergerak, waktu yang kian sempit, dan semangat untuk sampai ke panggung.

Namun, begitu mendekati kawasan Pantai Marina Boom, suasananya berubah. Cahaya lampu menerangi gerbang besar bertuliskan Kembang Dermo dan Gandrung Sewu. Pengunjung dari berbagai usia memadati kawasan festival. Hiasan penjor bambu melengkung berpadu dengan tata cahaya, menyambut orang-orang yang berdatangan untuk menyaksikan salah satu perhelatan budaya terbesar di Banyuwangi.

Bagi sebelas penari dari Bali itu, perjalanan melelahkan tersebut akhirnya membawa mereka ke tempat yang sejak awal ingin dituju, panggung tempat Tari Gandrung dirayakan bersama ribuan penari lainnya.

Di Pantai Marina Boom, malam itu, pantai berubah menjadi panggung luas yang dipenuhi cahaya. Ribuan penari tampil serempak dalam balutan busana Gandrung, menghadirkan perpaduan antara tradisi dan tata panggung modern.

Omprok berwarna keemasan menghiasi kepala para penari. Ukiran, ornamen bunga, dan juntaian manik-manik memantulkan cahaya, membuat gerakan mereka terlihat berkilau di tengah malam. Baju beludru hitam dengan sulaman keemasan berpadu dengan kain bernuansa merah. Selendang merah yang tersampir di bahu dan aksesori penari ikut bergerak mengikuti setiap ayunan tangan.

Konsep glow in the dark menambah daya tarik visual. Ketika cahaya menyentuh atribut yang dikenakan para penari, siluet tubuh, hiasan kepala, dan gerakan tangan mereka seolah muncul dari gelap. Sorotan lampu panggung mempertegas formasi ribuan penari, sementara pertunjukan drone di langit menambah dimensi visual di atas panggung terbuka itu.

Di antara gemerlap cahaya dan lautan manusia, keindahan Gandrung tetap bertumpu pada gerak. Tubuh yang lentur, jemari yang gemulai, dan postur yang tegap menyatu dalam irama. Hentakan kaki dan ayunan tangan bergerak mengikuti musik tradisional Banyuwangi. Ribuan penari harus menjaga ketepatan gerak sekaligus menyesuaikan diri dengan formasi besar yang telah dipersiapkan melalui latihan panjang.

Dari kejauhan, semuanya tampak mengalir dengan mudah. Namun, di balik pertunjukan itu, ada gerakan yang dihafalkan berulang kali, latihan yang menyita waktu, serta kegugupan yang harus diatasi sebelum tampil.

Melintasi Jarak, Menghidupkan Mimpi Masa Kecil

Bagi para penari dari Bali, setiap gerakan malam itu bukan sekadar bagian dari pertunjukan. Ada kebanggaan yang ikut mereka bawa, juga kesempatan untuk menari dalam perayaan budaya yang terhubung dengan asal-usul keluarga mereka.

Bagi Qori Rani, yang akrab dipanggil Rani, panggung itu memiliki arti yang jauh lebih personal.

Ayahnya, yang telah meninggal dunia, adalah seorang seniman Banyuwangi. Ia berkecimpung dalam kesenian, termasuk Gandrung dan kuntulan, serta pernah menjadi vokalis. Sejak kecil, Rani tumbuh dengan menyaksikan kecintaan ayahnya terhadap seni. Dari sanalah keinginan untuk belajar menari Gandrung tumbuh dalam dirinya.

Namun, hidup tidak selalu memberi ruang bagi sebuah keinginan untuk segera diwujudkan. Ayah Rani meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun. Ia harus belajar mandiri, sementara cita-cita masa kecilnya tersimpan di antara berbagai urusan kehidupan yang harus dijalani.

“Di keluarga almarhum papaku, dari kecil sudah dikenalin seni sama papaku, dikenalkan dengan seni-seni lainnya, dengan tarian-tarian. Walaupun masih kecil, aku belum sempat mempelajari semuanya, karena papaku sudah meninggal waktu aku usia 10 tahun,” ujarnya.

Bertahun-tahun kemudian, melalui Ikawangi Dewata Bali Cabang Badung, kesempatan itu datang. Rani akhirnya bisa mempelajari kesenian yang sejak kecil ingin ia kuasai.

Perjalanannya menuju tempat latihan bukan perkara ringan. Ia tinggal di Tabanan, sedangkan sanggar berada di kawasan Kuta. Perjalanan pulang-pergi dengan sepeda motor bisa memakan waktu tiga hingga empat jam, bahkan lebih lama ketika jalanan padat. Ia juga harus mengatur pengasuhan anak dengan menyewa pengasuh berdasarkan jam.

Pernah suatu hari uang yang tersisa di tangannya hanya Rp15.000. Uang itu dipakai untuk membeli bensin agar ia tetap bisa berangkat latihan. Akibatnya, ia tidak memiliki uang untuk membayar iuran sanggar. Bu Irma kemudian mempersilakannya tidak membayar.

“Pernah ini kejadian, ya, sisa uangku Rp15 ribu. Sisa Rp15 ribu ini aku beli bensin. Aku jalan pakai bensin Rp15 ribu itu sampai Kuta, bensinnya udah ketap-ketip, ketap-ketip,” kenangnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Ikawangi Badung, Ridwan, memberinya Rp50.000 setelah mengetahui Rani tidak memiliki cukup uang untuk membeli bensin pulang.

Bantuan-bantuan kecil itu membuat Rani merasa bahwa sanggar bukan sekadar tempat belajar menari. Di sana, ia menemukan keluarga yang saling membantu. Pelatih dan anggota sanggar membuatnya merasa diterima, bahkan ketika keadaan tidak selalu memudahkannya untuk datang berlatih.

Maka, ketika akhirnya berdiri di antara ribuan penari Gandrung Sewu, pengalaman itu terasa seperti pertemuan dengan keinginan masa kecil yang sempat tertunda.

Ia tidak hanya mendapatkan kesempatan belajar Gandrung, tetapi juga pengalaman tampil dalam pergelaran kolosal yang diikuti sekitar 1.300 penari. Di tengah keramaian, cahaya, dan gerakan yang berlangsung serempak, ia membawa kenangan tentang ayahnya serta perjalanan panjang yang membuatnya sampai ke sana.

Bagi Rani, kebanggaan itu juga berkaitan dengan masa depan. Kedua orang tuanya berasal dari Banyuwangi. Ia ingin anak-anaknya mengenal akar budaya keluarga mereka dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Ia berharap masih bisa mengikuti Gandrung Sewu pada tahun mendatang.

“Harapanku, anak-anakku nanti bisa ikut juga melestarikan budaya Banyuwangi. Jadi, kalau ibaratkan aku sudah ikut, nanti anakku ada motivasi ikut, dong, biar seperti mamanya. Jadinya bisa turun-temurun,” ucapnya.

Dari Keraguan Menuju Panggung Gandrung Sewu

Jika bagi Rani Gandrung adalah mimpi masa kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang, bagi Santy, kedekatan dengan Banyuwangi tumbuh melalui kebiasaan yang terus dirawat.

Ia mengikuti latihan rutin di sanggar Ikawangi bersama teman-teman yang juga memiliki latar belakang Banyuwangi. Pertemuan dan latihan itu membuat suasana Banyuwangi terasa hadir di Bali. Di luar jadwal sanggar, ia juga belajar melalui video di YouTube agar gerakan yang dipelajari semakin melekat.

“Saya mengikuti latihan rutin seminggu sekali. Di sisi lain, saya juga latihan mandiri melalui video YouTube,” ujarnya.

Bagi Santy, Gandrung Sewu merupakan peristiwa yang mempertemukan banyak orang dalam satu irama. Bukan hanya penari yang berada di panggung, melainkan juga pelatih dan orang-orang yang bekerja di balik penyelenggaraan acara. Semua memiliki peran untuk mewujudkan pertunjukan besar tersebut.

Menari Kembang Dermo bersama sekitar 1.300 penari di hadapan puluhan ribu penonton menjadi pengalaman yang mengharukan baginya. Ada rasa lega karena bisa menuntaskan perjalanan, sekaligus kebanggaan karena turut menjadi bagian dari upaya menjaga kebudayaan Banyuwangi.

“Setelah acara selesai, rasanya lega dan bangga pastinya. Merasa puas karena kita bisa menjadi bagian dari Gandrung Sewu, puas juga karena masih bisa menjaga budaya Banyuwangi walau tidak tinggal di Banyuwangi,” kenangnya seusai pertunjukan.

Santy berharap Gandrung Sewu terus berkembang dan suatu hari dapat menjangkau panggung internasional.

Air Mata Bahagia di Tengah Ribuan Penari

Pengalaman serupa dirasakan Bella, meski perjalanan menuju panggung besar itu sempat diwarnai keraguan. Pada awal persiapan, ia khawatir tidak mampu mengikuti koreografi. Gerakan yang harus dihafalkan dan keserempakan yang perlu dijaga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, latihan membuatnya semakin percaya diri. Kecemasan perlahan berganti menjadi keberanian untuk tampil.

“Awalnya saya merasa ragu untuk mengikuti event Gandrung Sewu ini karena saya takut tidak bisa mengikuti koreografi yang sudah disiapkan oleh pengurus Gandrung Sewu. Tetapi pada akhirnya, saya mencoba untuk percaya diri dan saya berhasil mengikuti kegiatan Gandrung Sewu pada tahun 2026 ini,” ujarnya.

Bella mengenal kekayaan kesenian Banyuwangi melalui berbagai bentuk, mulai dari Tari Gandrung, Jaranan Buto, hingga Tari Seblang. Baginya, kesenian tersebut merupakan bagian dari identitas Banyuwangi yang layak dikenal dan dilestarikan, termasuk oleh generasi muda yang tinggal jauh dari daerah asal leluhurnya.

Sebelumnya, ia hanya menyaksikan Gandrung Sewu melalui media sosial. Ia melihat para penari memenuhi panggung dan membayangkan bagaimana rasanya berada di tengah pertunjukan itu. Pada 2026, posisinya berubah. Bukan lagi sekadar menonton dari layar, ia menjadi bagian dari ribuan penari yang disaksikan banyak orang.

Bella mengaku menangis ketika menari bersama ribuan peserta lainnya. Baginya, pengalaman itu seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Ia juga senang bisa bertemu dengan penari dari berbagai daerah dan mendapatkan teman baru.

“Saya sempat terharu sampai meneteskan air mata saat menari dengan ribuan orang di event tersebut. Kita juga dapat berkenalan dan menambah teman-teman baru pada event Gandrung Sewu ini,” kenangnya.

Di balik kebahagiaan tersebut, ia tidak melupakan dukungan pelatih dan orang tuanya. Keduanya menjadi bagian penting dari perjalanan yang membuatnya berani melangkah ke panggung Gandrung Sewu.

Sementara itu, Lintang berlatih sekitar dua bulan sebelum mengikuti Gandrung Sewu. Ia menyukai seni tari, tetapi latihan tetap membutuhkan ketekunan. Ada gerakan cepat yang harus dihafalkan, termasuk rangkaian gerak kipas yang terkadang membuatnya lupa urutan atau menjatuhkan kipas. Untuk mengatasinya, ia mengulang gerakan setiap kali memiliki waktu luang dan mencocokkannya dengan iringan musik.

Dukungan orang tua membuatnya tetap bersemangat. Ia juga menganggap pelatihnya, Yuniar, memiliki peran penting dalam proses belajar tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada orang tua yang selalu mendukung saya, serta kepada pelatih dan semua pihak yang telah membimbing kami selama proses latihan hingga tampil di Gandrung Sewu 2026. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari acara yang luar biasa ini,” ucapnya.

Gandrung Sewu menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam pergelaran kolosal. Selain menari, Lintang berharap bisa bertemu dengan penari dari daerah lain, menjalin pertemanan, dan saling mengunjungi. Ia ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya daerahnya sendiri, tetapi juga belajar menghargai kebudayaan lain agar kekayaan budaya Indonesia tidak hilang.

Sementara itu, bagi Nesa, berada di tengah sekitar 1.300 penari yang memiliki kemampuan dan latar belakang berbeda merupakan pengalaman yang bermakna.

“Ini pertama kalinya saya mengikuti Gandrung Sewu. Pengalaman ini sangat bermakna dan berarti bagi saya. Saya sangat bangga dan bahagia bisa berada di tengah-tengah 1.300 penari hebat lainnya,” katanya.

Ia berharap tahun depan kembali mendapat kesempatan menjadi bagian dari perwakilan Bali.

Panggung Usai, Gandrung Tetap Hidup

Cerita Rani, Santy, Bella, Lintang, dan Nesa memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Gandrung Sewu tidak hanya berisi latihan dan persiapan pertunjukan. Ada kisah tentang mimpi yang tertunda, keberanian mengatasi keraguan, dukungan keluarga, persahabatan, dan usaha menjaga hubungan dengan tanah asal.

Bagi mereka yang tinggal di Bali, Banyuwangi bukan hanya tempat yang tercatat dalam cerita keluarga atau alamat kelahiran. Kedekatan itu tumbuh melalui latihan rutin, pertemuan di sanggar, gerakan yang dihafalkan, musik yang dipelajari, serta kesempatan untuk menari bersama ribuan orang di tanah leluhur.

Malam itu, cahaya panggung dan gemerlap omprok mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian penonton. Namun, di balik kemegahan pertunjukan, tersimpan kerja keras orang-orang yang berusaha memastikan kebudayaan tetap hidup. Sebagian datang dari Banyuwangi, sebagian lain tumbuh jauh dari sana, tetapi bertemu dalam gerakan dan irama yang sama.

Ketika pertunjukan malam itu berakhir, cahaya panggung meredup dan penonton pulang ke rumah masing-masing. Para penari dari Bali pun akan kembali menjalani kehidupan mereka di tanah rantau. Akan tetapi, pengalaman yang mereka bawa pulang tidak berhenti bersama berakhirnya acara.

Mereka pulang dengan kebanggaan karena telah berdiri di panggung budaya Banyuwangi. Mereka pulang dengan kenangan tentang ribuan penari yang bergerak bersama. Mereka pulang membawa keyakinan bahwa jarak geografis tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya.

Sebab, pulang tidak selalu berarti menetap di tempat kelahiran. Terkadang, pulang adalah menemukan kembali sesuatu yang diwariskan keluarga, lalu merawatnya agar tetap hidup.

Malam itu, sebelas penari Ikawangi Dewata Bali menempuh jalan yang tidak mudah untuk sampai ke Gandrung Sewu. Namun, di antara cahaya Pantai Marina Boom dan irama Gandrung yang menggema, mereka menemukan makna pulang, menari bersama, merayakan kebanggaan, dan memastikan bahwa kebudayaan Banyuwangi tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi yang tumbuh jauh dari tanah leluhurnya.(*)