Ikawangi Dewata Larut dalam Kemegahan BEC 2026

Salah satu peserta mengenakan kostum Banyuwangi Ethno Carnival 2026 pada Sabtu (18/7/2026). Photo : Abdul Aziz

Cuaca cerah seolah menjadi panggung alami bagi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Jalanan kota tak hanya dipenuhi parade busana berkelas dunia, tetapi juga menjelma menjadi ruang pertunjukan seni tempat sejarah, budaya, musik, tari, dan kreativitas berpadu mengisahkan semangat Perang Bayu.

Sejak sebelum pukul 13.00 WIB, suasana di pusat Kota Banyuwangi telah berubah. Ribuan masyarakat memadati sepanjang rute parade yang dimulai dari Taman Blambangan, melewati Pasar Induk Banyuwangi, Masjid Agung Baiturrahman, kawasan Perliman, hingga berakhir di depan SMP Negeri 1 Banyuwangi.

Anak-anak duduk di bahu orang tuanya, wisatawan mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen, sementara kamera-kamera mulai diarahkan ke jalan utama yang sebentar lagi berubah menjadi panggung raksasa.

Ketika parade dimulai, tepuk tangan langsung bergemuruh. Kostum-kostum megah dengan warna-warna yang mencolok bergerak mengikuti irama musik. Para penampil tidak hanya memperlihatkan keindahan busana, tetapi juga menghadirkan narasi sejarah melalui gerak dan ekspresi.

Tema "Perang Bayu" yang diangkat BEC 2026 membawa penonton kembali pada kisah perjuangan rakyat Blambangan mempertahankan tanah kelahirannya. Sejarah yang selama ini tersimpan dalam catatan, hari itu hadir di tengah jalanan Banyuwangi dalam bentuk seni pertunjukan yang hidup.

Di antara ribuan penonton, rombongan Ikawangi Dewata Bali tampak larut menikmati setiap bagian parade. Mereka bukan hanya menyaksikan sebuah festival budaya, tetapi seperti sedang menyaksikan tanah kelahiran mereka bercerita.

Sesekali mereka berdiri memberikan tepuk tangan panjang. Beberapa anggota mengabadikan momen melalui telepon genggam, sementara sebagian lainnya memilih menikmati setiap detail pertunjukan dengan tatapan penuh kebanggaan.

Bagi Ketua Umum Ikawangi Dewata Bali, Drs. H. Noer Yasin, M.Pd.I., BEC selalu memiliki makna yang lebih dalam bagi warga Banyuwangi di perantauan.

"Bagi kami yang tinggal di Bali, BEC bukan sekadar sebuah pertunjukan budaya, tetapi menjadi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Banyuwangi. Setiap kali menyaksikan BEC, kami seperti kembali pulang ke kampung halaman," ujar Noer Yasin.

Menurutnya, kehadiran Ikawangi Dewata Bali dalam BEC 2026 bukan sekadar memenuhi undangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus dukungan terhadap upaya menjaga budaya Banyuwangi.

"Kami ingin menyampaikan bahwa meskipun tinggal di Bali, kecintaan kami kepada Banyuwangi tidak pernah berkurang. Perantau tetap memiliki rasa memiliki terhadap daerah asal dan ingin terus menjadi bagian dari kemajuan Banyuwangi," katanya.

Perasaan haru juga dirasakan Bendahara Umum Ikawangi Dewata Bali, H. M. Solikin, yang telah hampir 18 tahun menetap di Bali. Baginya, kembali ke Banyuwangi untuk menyaksikan BEC bukan sekadar perjalanan menghadiri acara.

Saat parade melintas di hadapannya, kenangan tentang kampung halaman seperti kembali hadir.

"Terharunya luar biasa, rasanya seperti pulang ke rumah bersama keluarga besar," ungkap Solikin.

Menurutnya, kekuatan BEC terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai unsur budaya dalam satu pertunjukan.

"BEC memadukan tradisi, kreativitas, dan identitas Banyuwangi dalam satu pertunjukan yang luar biasa."

Kesan mendalam juga dirasakan Ketua DPC Ikawangi Dewata Jembrana, Taufik Hidayat. Bagi wilayah Jembrana yang secara geografis berdekatan dengan Banyuwangi, BEC menjadi ruang untuk kembali mengenal dan merasakan kedekatan budaya yang selama ini terjalin.

"BEC menjadi salah satu cara untuk lebih mengenal adat dan budaya Banyuwangi," ujar Taufik.

Menurutnya, hubungan budaya antara Jembrana dan Banyuwangi memiliki akar sejarah yang panjang. Bahkan di Desa Banyubiru, Jembrana, sebagian masyarakat masih menggunakan bahasa Osing meskipun telah mengalami percampuran dengan bahasa lokal.

"Di Jembrana sebenarnya tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dengan Banyuwangi. Di Desa Banyubiru, masyarakat masih memakai bahasa Osing karena diyakini leluhurnya berasal dari Banyuwangi," jelasnya.

Karena itu, menurut Taufik, BEC bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang mempererat hubungan antarwarga Banyuwangi yang berada di berbagai daerah.

"BEC merupakan salah satu cara untuk menyambung silaturahmi dengan saudara-saudara Banyuwangi yang datang dari luar daerah," katanya.

Ia berharap semangat yang dibangun melalui BEC dapat terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi komunitas Ikawangi di berbagai daerah.

"Acara BEC ini layak untuk dilestarikan dan bisa menjadi percontohan khususnya Ikawangi Dewata Bali dan Ikawangi di daerah lain," tuturnya.

Menjelang sore, parade perlahan mencapai garis akhir. Riuh tepuk tangan mulai mereda, namun kesan yang ditinggalkan tidak ikut hilang.

Tema Perang Bayu mengisahkan keberanian masyarakat Blambangan dalam mempertahankan tanah kelahirannya. Berabad-abad kemudian, semangat itu hadir dalam bentuk yang berbeda.

Bukan lagi melalui peperangan. Melainkan melalui orang-orang yang terus menjaga ingatan, merawat budaya, dan tidak pernah melupakan akar tempat mereka berasal.

Bagi Ikawangi Dewata Bali, BEC 2026 bukan hanya sebuah karnaval. Ia adalah pertemuan antara rindu dan budaya. Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, selalu ada jalan untuk kembali pulang.