Lingga Jaya: Membangun Asa dari Tumpukan Besi Tua

Korek api itu kembali berbunyi. Ceklek... Bara kecil menyala di ujung rokok yang menggantung di bibirnya. Asap tipis mengepul, lalu menghilang di antara tumpukan besi tua yang menggunung di sudut halaman. Di hadapannya, seorang pemuda berhelm hitam menunggu hasil penimbangan. Solikin menyambutnya, menghitung uang, lalu menyerahkannya tanpa banyak kata. Pemuda itu pergi. Belum sempat suasana lengang, seorang pelanggan lain datang membawa dua karung potongan logam di atas sepeda motor.

Begitulah ritme yang terus berulang di Lingga Jaya, sebuah usaha jual beli besi tua di Denpasar. Orang datang silih berganti. Ada yang menjual besi bekas dari rumah yang baru dibongkar, ada yang membawa kabel sisa proyek, ada pula yang mencari onderdil lama yang masih layak digunakan. Gudang beratap seng itu nyaris tak pernah benar-benar sepi.

Di dalamnya, karung-karung plastik putih bertumpuk mendekati langit-langit. Gulungan kabel, rangka aluminium, pipa besi, mesin bekas, hingga potongan tembaga memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Debu dan aroma logam menjadi udara yang setiap hari dihirup Solikin. Bagi banyak orang, tempat seperti ini mungkin tampak semrawut. Namun di mata Solikin, setiap tumpukan besi menyimpan nilai, bahkan cerita kehidupan.

Siang itu ia mengenakan kemeja batik biru dipadukan dengan sarung. Sesekali ia berdiri dari kursinya, membungkuk memeriksa timbangan, lalu memilah potongan tembaga dari logam lain sebelum kembali duduk melayani pelanggan berikutnya. Gerakannya tenang, nyaris tanpa tergesa. Lebih dari tiga puluh tahun bergelut di dunia besi tua membuat tangannya seolah mengenali karakter setiap logam.

Di balik kesederhanaan penampilannya, Solikin kini dipercaya sebagai Bendahara Ikawangi Dewata periode 2026–2030. Namun jauh sebelum aktif di organisasi, ia hanyalah seorang remaja asal Banyuwangi yang datang ke Bali dengan harapan sederhana, membantu orang tua bertahan hidup.

"Saya ke Bali tahun 1993, setelah lulus SMP," tuturnya.

Kalimat itu terdengar singkat, tetapi menyimpan perjalanan panjang.

Selepas lulus sekolah menengah pertama, Solikin tak pernah merasakan kebingungan memilih SMA mana yang akan dimasuki. Keadaan ekonomi keluarga membuat pilihan itu nyaris tidak ada. Ketika teman-teman sebayanya bersiap mengenakan seragam putih abu-abu, ia justru mengikuti sang ayah menyeberangi Selat Bali.

Tak ada koper besar berisi mimpi. Tak ada bekal untuk mengejar pendidikan tinggi. Yang ia bawa hanyalah tenaga muda dan kemauan untuk bekerja.

"Saya ikut bapak di Kereneng. Cari besi bekas pakai gerobak."

Matanya berbinar saat mengingat masa itu. Bukan karena pekerjaan tersebut mudah, melainkan karena dari sanalah ia belajar bertahan.

Pasar Kereneng menjadi sekolah kehidupan pertamanya. Setiap hari ia mendorong gerobak, mengumpulkan besi bekas, memilah logam, lalu menjualnya kembali. Tangan yang seharusnya akrab dengan buku pelajaran lebih sering bergelut dengan besi berkarat dan terik matahari.

Tak ada keluhan yang ia ingat. Yang ada hanyalah keinginan membantu keluarga.

Solikin, pemilik Lingga Jaya sedang melayani customer yang menjual besi pada Jumat (31/7/2026). Foto : Kholik Mawardi

Dari pekerjaan itu pula Solikin mulai memahami bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna oleh orang lain ternyata masih memiliki nilai. Besi tua, kabel bekas, mesin rusak, semuanya masih bisa menjadi sumber penghidupan jika dikelola dengan tekun.

Empat tahun kemudian, hasil kerja keras itu mulai menunjukkan buahnya.

Sedikit demi sedikit uang yang ia kumpulkan menjadi modal. Pada 1997, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan modal sekitar Rp 20 juta, termasuk biaya menyewa tempat.

Usaha itu diberinya nama Lingga Jaya. Nama tersebut ia ambil dari nama jalan tempat gudangnya berdiri Jalan Pulau Lingga, Banjar Pemogan Kaja, Denpasar.

Awalnya semuanya berjalan sederhana. Barang datang dari masyarakat sekitar. Ada yang membawa besi bekas bangunan, mesin rusak, kabel, hingga peralatan rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Semua dipilah berdasarkan jenisnya karena setiap logam memiliki harga yang berbeda.

Proses itu masih dilakukan hingga sekarang.

Saat wawancara berlangsung, Solikin beberapa kali membungkuk mengambil potongan tembaga dari atas timbangan.

"Ya beginilah, Mas. Kerjaannya santai," katanya sambil tersenyum.

Kalimat itu mungkin terdengar ringan. Namun pekerjaan yang disebutnya santai sesungguhnya menuntut ketelitian tinggi. Salah memilah logam atau salah membaca harga pasar bisa berujung kerugian besar.

Suasana gudang Lingga Jaya pada Kamis (31/7/2026). foto : Kholik Mawardi

Banyak orang memandang bisnis besi tua sebagai pekerjaan yang kotor dan kurang bergengsi. Namun Solikin justru melihat peluang di balik stigma tersebut.

"Justru karena banyak orang tidak menghiraukan bisnis ini, bagi saya itu kesempatan emas. Apa yang dipandang sebelah mata oleh orang lain, justru menjadi ladang rezeki."

Pandangan itulah yang membuatnya mampu bertahan lebih dari tiga dekade.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus.

Tahun 2002 menjadi ujian terberat dalam hidupnya. Ledakan Bom Bali membuat denyut ekonomi Pulau Dewata melemah. Pariwisata lumpuh. Aktivitas pembangunan melambat. Harga besi tua ikut merosot tajam.

"Waktu itu usaha sempat kolaps, saya harus menambah modal 100jt waktu itu, karena barang mengendap di gudang."

Kalimat itu diucapkan lirih.

Di tengah kondisi tersebut, ia sempat berpikir meninggalkan Bali dan membuka usaha di Lombok atau Sumbawa. Namun setelah dipertimbangkan matang-matang, ia memilih tetap bertahan.

Keputusan itu menjadi titik balik.

Memasuki 2005, ekonomi Bali mulai pulih. Harga besi bergerak naik. Lingga Jaya perlahan bangkit bersama pulihnya Pulau Dewata.

Meski demikian, tantangan tak pernah benar-benar selesai. Harga logam terus berubah mengikuti pasar dunia. Modal pun harus terus bertambah agar usaha tetap berjalan.

"Kalau modal berhenti, usaha juga berhenti."

Kini zaman telah berubah. Jika dulu pelanggan mengenal Lingga Jaya dari cerita mulut ke mulut, kini sebagian besar datang setelah menemukannya di Google Maps.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Kejujuran.

"Itu yang paling penting. Insyaallah hasilnya berkah."

Menurut Solikin, kepercayaan pelanggan jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Ketika harga sedang turun, barang bisa disimpan hingga pasar membaik. Namun kepercayaan yang hilang sulit untuk dibangun kembali.

Prinsip itulah yang juga ia bawa ketika aktif di Ikawangi Dewata. Baginya, organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang membangun relasi.

"Kalau punya banyak teman, biasanya banyak juga informasi."

Menjelang sore, aktivitas di gudang belum juga berhenti. Seorang pekerja mengangkat karung berisi kabel bekas. Di sudut lain, seorang pelanggan memilih besi siku yang masih layak digunakan. Timbangan kembali bergerak. Uang kembali berpindah tangan.

Sebelum wawancara berakhir, Solikin memandang sekeliling gudang yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari tiga puluh tahun. Di hadapannya, tumpukan besi tua masih menunggu untuk dipilah.

Perjalanan panjang itu membuatnya memahami satu hal, jangan pernah malu memulai dari bawah.

Dari seorang remaja yang mendorong gerobak mencari besi bekas, kini ia mampu membangun usaha yang menghidupi keluarganya sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Karena itulah ia menitipkan pesan kepada generasi muda.

"Bercita-citalah menjadi orang yang bisa membuat lapangan pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan."

Menurutnya, menjadi pengusaha bukan sekadar mengejar keuntungan. Di balik sebuah usaha, ada keluarga yang menggantungkan hidup, ada pekerja yang menerima upah, dan ada roda ekonomi yang terus berputar.

"Kalau usaha kita berkembang, bukan hanya kita yang merasakan hasilnya. Ada orang lain yang ikut bekerja, ikut mendapatkan penghasilan. Itu yang lebih membahagiakan."

Ketika ditanya apakah dirinya sudah merasa sukses, Solikin tidak berbicara tentang besarnya gudang, banyaknya pelanggan, ataupun omzet yang diraih.

Ia hanya tersenyum.

"Alhamdulillah. Yang penting saya punya keluarga, bisa membantu ekonomi keluarga di Banyuwangi, usaha masih berjalan, dan kebutuhan hidup tercukupi. Itu sudah merupakan kesuksesan."

"Dan yang membuat saya bangga mas, saya berhasil menyekolahkan anak saya, anak pertama lulus Sarjana Hukum Unud, dan yang kedua di Fakultas Kelautan dan Perikanan semester 7 di Unud juga." tambahnya.

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun justru di situlah letak makna perjalanan Solikin. Seorang anak Banyuwangi yang meninggalkan bangku sekolah demi membantu orang tua, memulai hidup dengan mendorong gerobak mencari besi bekas, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, melewati krisis Bom Bali, hingga akhirnya mampu membangun Lingga Jaya menjadi usaha yang tetap bertahan sampai hari ini.

Di gudang yang dipenuhi tumpukan besi tua itu, Solikin tidak hanya melihat logam yang telah usang. Ia melihat kesempatan. Ia melihat harapan. Ia membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap tak bernilai oleh banyak orang justru mampu menghidupi keluarga dan membuka masa depan.

Dari tumpukan besi tua itu, Solikin tidak sekadar menemukan rezeki.

Ia menemukan harga dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *