Imam Subakti, Penjaga Cita Rasa Nasi Kebuli di Tengah Keramaian Renon

Matahari pagi baru saja menghangatkan kawasan Car Free Day Renon, Denpasar. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan yang menaungi jalan, sementara ratusan orang memadati kawasan tersebut untuk berjalan kaki, berlari, bersepeda, atau sekadar mencari sarapan.

Di antara deretan lapak yang berdiri di tepi jalan, sebuah papan kayu bertuliskan "Nasi Kebuli" tampak mencuri perhatian para pengunjung. Lapak sederhana itu berada tepat di depan Kantor BPJS Renon, di Jalan DI Panjaitan, Denpasar. Beberapa orang terlihat mengantre sambil menunggu pesanan mereka disiapkan. Tidak ada meja atau kursi yang tersedia di sana. Semua pelanggan membeli makanan untuk dibawa pulang.

"Tempatnya segini saja, Mas, jadi tidak cukup kalau menaruh meja," kata Imam Subakti sambil tersenyum.

Pria kelahiran 1975 asal Desa Sawahan, Genteng Kulon, Banyuwangi, itu duduk di bangku plastik kecil di belakang lapaknya. Ia mengenakan kaus biru tua longgar dan celana berwarna gelap. Rambutnya yang mulai menipis disisir ke belakang, sementara senyum ramah tidak pernah lepas dari wajahnya.

Sesekali, Imam berdiri untuk menyapa pelanggan yang datang. Sementara itu, sang istri tampak sibuk menyiapkan pesanan yang terus berdatangan. Tangan perempuan itu bergerak cepat. Nasi berbumbu rempah dimasukkan ke dalam kotak makanan, lalu dilengkapi dengan ayam suwir, acar, telur, dan sambal.

Dengan harga Rp12 ribu per porsi, menu tersebut menjadi salah satu pilihan sarapan favorit para pengunjung Car Free Day Renon. Selain harganya terjangkau, porsinya juga cukup mengenyangkan untuk mengawali aktivitas pada pagi hari.

Namun, bagi Imam, lapak sederhana itu bukan sekadar tempat berjualan.

Ada kenangan, perjuangan, dan harapan yang terus dijaga di dalamnya.

"Lapak nasi kebuli ini sudah berdiri selama empat tahun. Selama tiga tahun dipegang masku. Setelah masku tidak ada, kok eman, akhirnya saya lanjutkan. Sekarang sudah berjalan sekitar satu tahun," ujarnya.

Kalimat itu diucapkan dengan tenang. Bagi Imam, meneruskan usaha tersebut bukan hanya tentang mencari penghasilan, tetapi juga menjaga warisan keluarga agar tidak berhenti di tengah jalan.

Sejak menetap di Bali pada 1994, Imam telah menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini, selain berjualan nasi kebuli setiap Minggu, ia juga menjual pisang krispi di kawasan Jalan Badak Agung, Denpasar.

Kesibukan sebagai pedagang tidak membuatnya melupakan akar budaya dan kampung halamannya. Imam juga aktif sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kesekretariatan Ikawangi Dewata.

Baginya, organisasi tersebut telah menjadi tempat untuk menjalin kebersamaan dengan sesama perantau asal Banyuwangi yang tinggal di Bali.

"Ikawangi Dewata adalah tempat untuk berguyub dan melepas kerinduan terhadap kampung halaman," katanya.

Kerinduan itulah yang membuat Imam merasa dekat dengan banyak orang. Tidak hanya melalui organisasi, tetapi juga melalui makanan yang dijualnya.

Setiap akhir pekan, Imam dan istrinya memulai pekerjaan mereka sejak Sabtu. Mereka menyiapkan berbagai bahan dan memastikan semuanya siap untuk dijual pada keesokan harinya.

"Kami memasak dan menyiapkan semuanya sejak Sabtu. Biasanya mulai berjualan pukul lima pagi sampai pukul sepuluh siang," tuturnya.

Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Imam mengaku harus berjuang melawan penyakit asam urat dan gangguan pada ginjal yang dideritanya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk terus bekerja.

Baginya, selama tubuh masih mampu bergerak, perjuangan harus terus dilanjutkan.

Kerja keras itu pun membuahkan hasil. Setiap Minggu, nasi kebuli yang dijual hampir selalu habis terjual.

"Alhamdulillah, rata-rata habis 15 kilogram," katanya.

Di tengah perbincangan, seorang perempuan datang bersama anaknya. Ia langsung memesan empat porsi nasi kebuli.

Imam segera mengenali sosok tersebut. Senyum di wajahnya pun mengembang.

"Beliau sudah menjadi pelanggan kakak saya sejak empat tahun lalu. Setiap minggu selalu datang," ujarnya.

Hubungan seperti itulah yang membuat Imam bertahan. Bagi dirinya, pelanggan bukan sekadar pembeli, melainkan bagian dari perjalanan panjang usaha yang dirintis keluarganya.

Menjelang pukul 10.00 Wita, keramaian di kawasan Renon perlahan mulai berkurang. Kotak-kotak makanan yang sejak pagi tersusun rapi di atas meja hampir habis terjual. Imam kembali duduk di bangku kecilnya sambil memperhatikan sang istri yang masih sibuk merapikan peralatan.

Meskipun usahanya masih sederhana, Imam menyimpan harapan besar untuk masa depan. Ia ingin menyewa tempat di kawasan Renon agar dapat melayani pelanggan setiap hari.

"Pengen sekali menyewa tempat supaya bisa berjualan setiap hari," katanya.

Keinginan itu bukan semata-mata untuk memperbesar keuntungan. Bagi Imam, hal itu adalah cara untuk menjaga cita rasa yang diwariskan oleh sang kakak sekaligus memperluas jangkauan usaha yang telah dirintis keluarganya.

Saat ini, Imam juga menerima pesanan nasi kebuli melalui layanan WhatsApp di nomor 081338377013.

Di tengah hiruk pikuk Car Free Day Renon, Imam Subakti terus menjaga semangatnya. Dari balik lapak sederhana itu, ia tidak hanya menjual nasi kebuli. Ia sedang melanjutkan perjuangan keluarga, menjaga kepercayaan pelanggan, dan merawat kerinduan terhadap Banyuwangi, tanah kelahirannya.

Setiap Minggu pagi, cerita itu terus berulang. Aroma rempah-rempah kembali memenuhi udara, pelanggan berdatangan, dan Imam tetap setia berada di balik lapaknya, menjaga warisan yang telah dipercayakan kepadanya, satu porsi demi satu porsi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *